Ceramah Kebangsaan, Perlunya Penanaman Kembali Nilai Nilai Pancasila

Kegiatan Ceramah Kebangsaan

Kabarkita, Kota Bima – Selasa (22/08) yang dimulai Pukul 09.00 WITA, Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid Dewan Masjid Indonesia (BKMM DMI) Kota Bima menggelar kegiatan Ceramah Kebangsaan di Aula SMAN 2 Kota Bima.

Pada kegiatan yang masih dalam memperingati HUT RI ke-72 itu, BKMM mengangkat Tema kegiatan “Internalisasi Nilai 4 Pilar Kebangsaan dalam Meningkatkan Kesadaran Diri Sebagai Warga NKRI”,

Ketua BKMM DMI Kota Bima, Dra. HJ Aminah Iskandar, M.Ap dalam sambutanya menyampaikan bahwa, pada kegiata  yang digelar di Aula SMAN 2 Kota Bima ini dihadiri oleh ketua ketua majelis Taklim Kota Bima, Delegasi Ormas, Tokoh Masyarakat dan Ustadz serta santri sejumlah Pondok Pesantren di Kota dan Kabupaten Bima.

Diundangnya para ketua majelis taklim itu karena Majelis Taklim dianggap sebagai corong paling dekat dengan para kaim ibu dan wanita disetiap lingkungan perkampungan. Para ibu itu tentunya akan meneruskan apa yang mereka dapatkan dalam sebuah majelis untuk menjadi bahan ajar bagi anak anak mereka dirumah.

“Karena memang pendidikan paling efektive dan utama adalah pendidikan dalam keluarga melalui peran ibu sebagai gurunya”, papar Hj. Aminah.

Kegiatan kemudian dibuka secara reami oleh Asisten 1 Kota Bima, Drs M Farid, M.Si. Dalam sambutannya itu, Asisten 1 menegaskan bahwa NKRI merupakan harga mati yang sudah tidak bisa ditawar tawar lagi.

Ia mengajak masyarakat untuk menolak segala bentuk idiologi apapun yang bertentangan denga  Pancasila, dan melawan upaya apapun yang berupaya merongrong keutuhan NKRI.

“Apa yang telah ditetapkan oleh para pendahulu kita itu sudah final adanya”, papar Asisten 1.

Setalh dibuka secara resmi oleh Asisten 1, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kegiata  diskusi publik yang menghadirkan 4 orang narasumber.

Sebagai pembicara pertama, Siti Rohani Makarau, S.Pd, yang bertindak sebagai moderator, meminta kesediaan Dandim 1608 Bima, Kolonel CZI Yudil Hendro, untuk menyampaikan materi “Ceramah 4 Pilar Kebangsaan”.

Dalam penyampainnya Yudil Hendro memaparkan tentang apa saja yang menjadi 4 pilar bangsa yaitu Pancasila  Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Yudil Hendo lebih banyak membahas pemaknaan 4 pilar kebangsaan itu dalam kacamata Islam dan bagaimana nilai nilai agama itu telah terinternalisasi dalam Pancasila sebagai dasar Negara.

“Tinggal bagaimana nilai nilai kebangsaan itu kita internalisasikan dalam diri setiap orang yang menjadi warga negara NKRI ini”, tandas Yudil Hendri.

Naasumber ke 2 adalah Kepala Bakesbangpol Kota Bima, Achmad Fathony, SH.

Dalam pemaparannya Achmad Fathony memuji semangat peserta yang kebanyak ibu ibu ini dengan menyebutnya sebagai para Pancasilais sejati.

Bagaimana tidak menururtnya, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, para ibu sudah melaksanakan perannya untuk keluarga dengan penuh tenggang rasa.

“Ada tidak seorang ibu meminta digaji ketika ia membereakan tempat tidur anaknya kemudian menyiapkan sarapan dan kebutuan anak dan suaminya? Tidak ada. Karena para wanita menyiapkan generasi bangsa ini tanpa pamrih dan dengan penuh tanggung jawab”, terang Fathony.

Setelah Achmad Fathony, penyampaian materi dilanjutkan oleh M Taher  S.Ag, M.Ap, Puket III STKIP Bima.

Pada pemaparan materinya M Taher lebih banyak menjelaskan apasaja yang menjadi ancaman bagi idiologi bangsa kita, Pancasila.

Selain Komunisme dan Radikalisme yang diaanggap sebagai ancaman terhadap idiologi bangsa, rupanya Sekulerisme dan Liberalisme menjadi anavaman yang tak kalah seriusnya bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu Drs HM Shatur, selaku  Tokoh Agama dan Pimpinan  Pondok Pesantren Al Ihlas Kota Bima mencerigakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka berkat pekikan takbir dari kiyai dan santri pondok pesantren.

Perang kemerdekaan waktu itu dinamakan  perang fi sabilillah atau jihad dalam mengusor para penjajah negeri ini. Di Bima saat itu juga melalika perlawan yang dikenal dengan  Lewa Sabi oleh masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama.

Masyarakat Pondok pesantren juga ikut membangu negara dalam menumpas pemebrontakan PKI pada tahun tahun berikutnya pasva kemerdekaan.

Namun memasuki tahun 1980an, aktivitas para santri dan pendakwah mulai dicurigai bahkan ditangkap karena dituduh hendak melalukan makkar hingga akhirnya puluhan orang di Pondok pesantren yang ada di Bima ditangkap dan ditahan hingga belasan tahun.

Pada perkembangannya kini, pondok pesantren memang sudah banyak yang disusupi oleh idiology idilogy yang salah. Maka sebenarnya yang paling berat tugas para pimpinan pondok saat ini afalah menfilter oengaruh liar yang masuk ekdalam pondok dari berbagai cara.

“Kalau hanya sekedar pembinaan santri menurut saya tidak terlali berat”, jelas Shatur.

Kegiiatankemudiam dilanjutkan dengan tanya jawab hingga pukul 13.00 Wita.

Kegiatan itu berjasil dilaksanakan dengan menghasilkan sejimlaj rekomendasi untuk pemerintah. (San)

(Visited 31 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

       © 2015| Kabarkita.info| Redaksi| Pasang Iklan| Privacy Policy