Harga Jual Rendah, Petani Pekat Ogah Tanam Tebu

Ahmadin, Ketua Petani Tebu Kecamatan Pekat

Ahmadin, Ketua Petani Tebu Kecamatan Pekat

Kabarkita, Kabupaten Dompu- Geliat perkembangan ladang tebu yang ada di hamparan Doroncanga hingga Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, ternyata tidak seperti yang tergambar di permukaan. Harapan masyarakat Kecamatan Pekat untuk bisa sejahtera dengan menjadi petani tebu pun kini sudah pupus.

Setelah menanam dan merawat tanaman tebu hampir satu tahun lamanya, akhir Juni hingga awal Juli lalu PT.  SMS mulai melakukan uji coba pembelian tebu dari masyarakat. Rencana pembelian oleh PT. SMS itu awalnya disambut gembira oleh masyarakat petani tebu yang ada, hingga pada saat pembelian, raut kekecewaan tergaris dari wajah para petani dan kekecewaan itu disampaikan pada Ketua Petani Tebu Kecamatan Pekat.

“Harga beli perusahaan terhadap tebu yang ditanam masyarakat hanya 380 ribu per ton, setelah kita pelajari dan hitung-hitung, ternyata kecil sekali yang didapat petani dibandingkan dengan apa yang dilakukan petani tebu selama satu tahun proses menanam hingga memanen” papar Ahmadin.

Menurut Ahmadin, seharusnya pihak perusahaan mensosialisasikan penetapan harga itu ke masyarakat petani tebu, atau perusahaan dan petani duduk bersama membicarakan harga tebu yang wajar agar kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan.

“Tapi inikan langsung datang beli dan angkut saja, perusahaan sudah mematok harga segitu masyarakat ya terpaksa menjual ke perusahaan. Mau dijual kemana lagi coba, tau beginikan mending tanam jagung” papar Ahmadin.

Sikap arogan yang ditunjukan perusahaan tebu PT. SMS tersebut sudah diindikasikan lain oleh Ketua Petani Tebu Kecamatan Pekat. Ia menganggap, ada indikasi bahwa PT. SMS hendak memonopoli lahan penanaman tebu masyarakat dan mengusir warga petani yang telah lama menguasai lahan tersebut.

“Ada perusahaan ini bukannya mau mensejahterakan rakyat, tetapi saya melihat ada itikad tidak baik dari perusahaan untuk mengambil kembali tanah-tanah yang sudah dikuasai rakyat sejak puluhan tahun lalu. Benar itu tanah HGU, tapi tanah-tanah yang digarap masyarakat sekarangkan HGU yang telah diterlantarkan puluhan tahun lamanya” jelas Ahmadin.

Ahmadin menegaskan, jika perusahaan tetap arogan dan tetap mempertahankan harga pembelian 380 ribu per ton, maka tahun ini dan tahun-tahun berikutnya,  masyarakat tidak akan menanam tebu.

“Buat apa tanam tebu kalau memang harus merugi” ucap Ahmadin.

(Visited 224 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

       © 2015| Kabarkita.info| Redaksi| Pasang Iklan| Privacy Policy