LSKA Gelar Temu Tokoh dan Masyarakat Bahas Radikalisme di Kota Bima

Amiruddin, S.Sos, Ketua Panitia

Kabarkita, Kota Bima – Senen (11/09), Kota Bima kembali menghiasi pemberitaan media nasional dengan penembakan dua anggota Polres Bima Kota yang ditembak OTK usai mengantar anak mereka sekolah.

Seorang anggota poliai ditembak didepan SMPN 8 Kota Bima, sementara seorang lainnya ditembak didepan SMKN 2 Kota Bima.

Penembakan anggota polisi ini bukanlah pertama kalinya terkadi di Bima. Beberapa tahun sebelumnya, 3 anggota polisi yang 2 diantaranya merupakan perwira di Polres Bima kota juga ditemvak oleh OTK yang kemudian dikaitkan dengan aksi terorisme.

Pada penembakan kali ini, walau dari Polres Bima Kota tidak mengaitkan penembakan dengan aksi terorisme, namun beberapa media nasional sudah menjustifikasinya sebagai sebuah aksi terorisme, terlebih lagi dengan waktu kejadian yang bertepatan dengan peringatan peristiwa dunia 11/09 WTC di USA.

Justifikasi itu bukan tanpa alasan. Apabila dilihat dari rekam jejak rangkaian aksi teror di Indonesia, maka tak berselang lama akan disusul dengan penangkapan yang dilakukan Densua 88 di Kota maupun Kabupaten Bima terhadap terduga jaringan kelompok teror.

Terakhir, peristiwa penangkapan yang terjadi di Desa Talabiu, Desa Dore dan Pelabuhan Pelindo III Kota Bima pada akhir Juni lalu.

Padahal, upaya pemerintah untuk menekan gerakan gerakan semacam itu sudah cukup gencar. Baik melalui kegiatan dilapangan terbuka, seminar dan sarasehan maupun pendekatan pendekatan langsung pada masyarakat.

Senen (25/09), LSKA NTB akan menggelar Temu tokoh agama dan masyarakat guna membahas resolusi konflik yang tepat guna mengeliminir potwnai konflik berbasis radikalisme ini.

Dengan mengundang 4 narasumber yang capable membahas masalah radikalisme dan permasalahan konfliknya, diharapkan akan mampu memberi solusi dan masukan bagi pemerintah dan para tokoh untuk menciptakan Kota Bima yang kondusive.

Amiruddin, S.Sos, Ketua Panitia pelaksana menyampaikan, akan hadir DR. Syarif Ahmad sebagai narasumber yang mengupas masalah radikalisme di Kota Bima. Sementara Ketua Penyuluh Agama Kota Bima, Mustafa Umar, S.Ag, M.Ag, akan coba menawarkan berbagai pendekatan social keagamaan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

“Kami juga sudah mengundang Kapolres Bima Kota dan Kepala Bakesbangpol Kota Bima sebagai narasumber”, ungkap Amir.

Rencananya, kegiatan Temu tokoh agama dan masyarakat dengan mengusung Tema “Meredusir Potensi Ancaman Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima” itu akan menghadirkan sekitar 100 orang peserta yang tersiri dari utisan ormas, organisasi kepemudaan, karang taruna, tokoh masyarakat, tokoh agama dll.

“Harapan kami pada ┬ákegiatan yang akan kami gelar itu seleuruh peserta dan narasumber akan saling bersinergy dalam menyumbangkan ide dan pikiran guna membahas solusi apa yang tepat guna menciptakan Kota Bima yang bebas dari konflik berbasis radikalisme ini”, pungkas Amir.

(Visited 26 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

       © 2015| Kabarkita.info| Redaksi| Pasang Iklan| Privacy Policy