Membentengi Santri dari Paham Radikalisme dan Terorisme

Pelaksanaan Temu Santri di Aula SMA 2 Kota Bima

Kabarkita, Kota Bima – Pada beberapa kasus terorisme, Pondok Pesantren pernah menjadi tempat untuk menggodog santri santri calon pelaku aksi terorisme atau yang biasa disebut sebagai martil. Di Bima sendiri, beberapa kasus terorisme pernah dikaitkan dengan beberapa pondok pesantren, baik itu santri dalam pondok pesantren, pengajar dalam pondok pesantren bahkan pondok pesantren itu sendiri.

Sebanyak 130 santri dan ustdaz dari berbagai pondok pesantren yang ada di Kota dan Kabupaten Bima, Jum’at (20/04) pagi mengikuti kegiatan Temu Santri di Aula SMAN 2 Kota Bima.

Pada pertemuan yang bertema “Membentengi Santri dari Paham Radikalisme dan Terorisme” itu, dihadiri oleh 4 orang narasumber yang terdiri dari Ustadz Mustafa Umar, S.Ag, M.Pdi (Pokjaluh Kemenag Kota Bima), Ustadz Fathurrahman, S.Ag, MH (Pokjaluh Kemenag Kabupaten Bima), M Taher, S.Ag, M.Pd (Akademisi STKIP Bima) dan Ir H Darwis (Sekretaris Bakesbangpol Kota Bima).

Ustadz Mustafa Umar , dalam penyampainnya mencoba memberikan gambaran pada santri tentang bagaimana dampak dari aksi terorisme yang dilakukan oleh para pelaku hingga menimbulkan korban jiwa diantara sesama muslim yang tak berdosa. Mustafa Umar juga memaparkan bagaimana seharusnya pengajaran dipondok pesantren itu dilakukan agar terhindar dari paham paham radikalisme dan terorisme.

“Memahami ajaran islam itu selain dari Al qur’an dan Hadits, ada juga sumber lain berdasarkan kitab kitab klasik para ulama. Hal itu perlu dilakukan agar kita bisa memahami ajaran islam itu secara kaffah dan tidak berdasarkan interpretasi masing masing”, papar Mustafa.

Ustadz Fathurrahman dalam penyampaianya juga nenegaskan bahwa santri jangan mau jika didatangi oleh orang asing yang tiba tiba menawarkan surga dengan cara membunuh orang lain. Karena dalam ajaran islam itu jihad punya cara dan ada aturan mainnya.

M.Taher yang menyajikan materi Memahamkan Islam Rahmatan Lil Alamin, lebih menekankan agar para santri lebih fokus pada ajaran ajaran islam yang rahmatan lil alamin. Ia memberikan pemahaman sederhana tentang apa itu rahmatan lil alamin dengan mrngibaratkannya sebagai do’a yang setiap hari bacakan oleh para santri.

“Rabbana Aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wakina azaabannaar, itulah ajaran islam yang rahmatan lil alamin”, jelas M Taher.

Pada sesi terakhir penyampaian materi, H Darwis selaku sekretaris Bakesbangpol Kota Bima menekankan pentingnya menamakan nilai nilai Pancasila sejak usia dini agar kelak bisa menjadi pribadi yang toleran dan bersahaja.

Kegaiatan yang dipandu oleh Muhammad Hasyim, S.Sos sebagai moderator, berakhir pada pukul 12.00 Wita dengan berbagai rekomendasi diantaranya, menggelar kegiatan kegiatan pertemuan santri lainnya dalam rangka silaturrahmi antar santri di Kota dan Kabupaten Bima. (K2 01)

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

       © 2015| Kabarkita.info| Redaksi| Pasang Iklan| Privacy Policy