Meredusir Radikalisme Menjadi Tanggung Jawab Semua Pihak

Narasumber Temu Tokoh Agama dan Masyarakat di Aula SMAN 2 Kota Bima

Kabarkita, Kota Bima – Kegiatan Temu Tokoh Agama dan Masyarakat dengan Tema Meredusir Potensi Konflik Berbasis Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima, yang digelar di Aula SMAN 2 Kota Bima, Senen (25/09), berlangsung hangat.

Pada kegiatan tersebut hadir sebagai narasumber adalah DR. Syarif Ahmad, M.Si dengan materi Mengurai Paham Radikalisme yang Ada di Bima. Kasat Binmas Polres Bima Kota, AKP M Yamin, SH, menyampaikan materi Menakar Potensi Konflik Berbasis Paham Radikalisme diwilayah Hukum Polres Bima Kota. Drs. A Farid, Bakesbangpol Kota Bima dengan materi Langkah Pemerintah dalam Meredusir Paham Radikalisme di Kota Bima. Mutafa Umar, S.Ag, M.Pdi, dengan materi Menangkal Radikalisme dengan Pendekatan Sosial Keagamaan.

Dalam penyampaiannya AKP M Yamin, SH memaparkan bahwa di beberaoa wilayah di Indonesia, selain menyasar simbol simbol barat, aksi terorisme oleh kelompok radikal juga nenyasar anggota polisi dan markas polisi. Tidak saja diserang menggunakan bom dan senjata api, aksi para teroris ini juga menyerang polisi yang sedang sholat dengan senjata tajam.

Di Bima sendiri sudah ada enam kasus penyerangan polisi yang diduga dilakukan oleh anggota kelompok radikal. Dari penyerangan itu, 3 anggota polisi tewas dan 3 anggota polisi lainnya berhasil selamat.

“Bahkan saya juga pernah diancam oleh orang tidak dikenal melalui handphone usai saya sholat subuh. Tapi bagi saya selama saya menjalankan tugas mengabdi pada negara dan masyarakat maka saya tidak perlu takut”, ungkap M Yamin.

Mustafa Umar, S.Ag, M.Pdi, dalam penyampaian materinya memaparkan bahwa salah satu cara untuk mencegah paham radikalisme di Indonesia khususnya di Kota Bima yaitu dengan segera diberlakukannya sertifikasi mubhallig.

Ketika para da’i disertifikasi dan hanya para da’i yang bersertifikat yang bisa berdakwah, maka materi materi dakwah yang bersifat radikal dan menghasut serta menebar kebencian itu bisa dieleminir. Sebab apa, salah satu jalan membangkitkan paham radikalisme itu adalah melalui dakwah yang menebar kebencian melalui ceramah agama.

“Nanti jika ada yang melakukan dakwah dengan menebar kebencian itu bisa dilaporkan. Saat ini kementrian agama sedang mendorong pemberlakuan aturan itu”, ungkapnya.

Sementara perwakilan Bakesbangpol Kota Bima, Drs A Farid dalam penyajiannya berharap agar seluruh elemen masyarakat menutup akses bagi penyebaran paham radikalisme.  Menurut A Farid, para pelaku penyebar paham radikalisme di Kota Bima sebagian besar bukanlah berasal dari Kota Bima, melainkan pendatang yang tinggal di Kota Bima dan sebagian diantaranya tidak terdata dan terdaftar secara legal.

“Oleh karenanya, beberapa waktu kedepan kami melakukan razia KTP dan kartilu keluarga bagi warga yang terindikasi tidak memiliki identitas tersebut”, ungkapnya.

Berbeda dengan tiga narasumber lainnya, DR Syarif Ahmad, M.Si dalam penyampaian materinya menyatakan bahwa Radikalisme dan terorisme merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Terhadap sekelompk masyarakat yang dianggao radikal di Kota Bima, seharusnya kemerintah Kota Bima menggandeng mereka dan diajak berkkmunikasi yang baik untuk sama sama membangun Kota Bima yang kita tinggali ini.

Jangan hanya membangun komunikasi satu arah, jangan sampai kita berbicara lain saudara saudara kita yang dianggap radikal itu juga berbicara sendiri tanoa ada komunikasi yang nyambung”, harapnya.

Kegiatan Temu Tokoh Agama dan Masyarakat itu berakhir pukul 13.00 WITA. Dari 6 penanya, tiga orang diantaranya berharap agar seluruh elemen yang ada di Kota Bima bisa sama sama berkkmitmen mengekuarkan Kota Bima dari stigma negative terorisme dan radikalisme. (San)

(Visited 29 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

       © 2015| Kabarkita.info| Redaksi| Pasang Iklan| Privacy Policy